Wednesday, April 23, 2014

Perkembangan Islam di Indonesia dan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Nama     : Saraya Dwi Fitharti (35)
kelas     : x - IPS
A. Masuknya Islam di Indonesia
Masuknya Islam di Indonesia pada abad ke-7 atau ke-8 M yang bertepatan dengan abad ke 1 atau 2 H. Rute atau jalur yang dilewati adalah jalur utara ayau selatan. Dakwah Islam di Indonesia berjalan secara damai melalui perdagangan dan pernikahan.
1. Perkembangan Islam di Sumatera
A. Kerajaan Samudra Pasai
Samudra Pasai muncul pada pertengahan abad 13, kerajaan pertama di Indonesia. Letaknya di pesisir timur laut Aceh sekarang kabupaten Lhokseumawe.
B. Kerajaan Aceh
Berdiri pada tahun 1514 diujung Pulau Sumatera, pendirinya Sultan Ali Mugayat Syah, mengalami kejayaan pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda menjalin kerjasama dengan kerajaan Turki Usmani (Ottoman). Setelah Sultan Iskandar Muda, pemerintahan kerajaan berturut-turut dipimpin oleh : Sultan Iskandar Sani, Sultan (Ratu) Syafiuddin, Tajul Alam, Sultanah Sri Naqoitudin Nurul Alam, Sultanah Inayah, dan Sultanah Kamalat Syah.
2. Perkembangan Islam di Jawa
Perkembangan Islam di Jawa tidak bisa dilepaskan dari peranan Wali Songo adalah sebagai berikut :
a. Maulana Malik Ibrahim/ Maulana Maghrib/ Syeh Magribi
b. Sunan Ampel
c. Sunan Bonang
d. Sunan Giri
e. Sunan Drajat
f. Sunan Kalijaga
g. Sunan Kudus
h. Sunan Muria
i. Sunan Gunung Jati
Disamping Wali Songo penyebar agam islam di Jawa tidak terlepas dari peranan kerajaan Islam sebagai berikut :
1) Kerajaan Demak
2) Kesultanan Pajang
3) Kerajaaan Mataram
4) Kerajaan Cirebon
5) Kesultanan Banten
3. Perkembangan Islam di Sulawesi
Masuknya Islam di Sulawesi tidak terlepas dari peran Sunan Giri di Gresik, hal ini karena Sunan Giri mendirikan pondok pesantren yang banyak muridnya dari luar jawa termasuk dari Sulawesi.
Adapun masuknya Islam di Sulawesi ada 2 cara :
1.Tidak resmi : Interaksi pedagang setempat dengan pedagang muslim di luar Sulawesi
2.Resmi : Penerimaan Islam dilakukan oleh Raja Gowa dan Tallo, Sultan Alaudin yang telah masuk Islam tahun 1605.
4. Perkembangan Islam di Kalimantan
Pada abad ke-16 Islam mulai memasuki kerajaan Sukadana. Pada tahun 1509 Kerajaan Sukadana resmi menjadi kerajaan Islam. Kerajaan Islam Banjar, di bagian selatan pulau Kalimantan tahun 1926. Tokoh yang berjasa dalam pengembangan Islam di Sulawesi adalah Pangeran Antasari atau Sultan Amirudin Khalifatul Mukminin.
5. Perkembangan Islam di Maluku dan Irian Jaya
Penyebaran agama Islam di Maluku tidak terlepas dari jasa para santri Sunan Drajat yang berasal dari Ternate dan Hitu sejak abad ke-15. Di Maluku ada 4 kerajaan Islam : Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo. Tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam : Sultan Zainal Abidin berhasil mengembangkan agama Islam ke Maluku dan Irian Jaya bahkan sampai Filipina.
6. Perkembangan Islam di Nusa Tenggara dan sekitarnya
Di Nusa Tenggara Islam pertama kali diterima oleh suku Sasak antara tahun 1840-1850 penyiaran Islam di daerah ini dilakukan oleh para mubaligh dari Makasar. Di Pulau Bali muslim terdapat di Singaraja, Buleleng dan Siririt.
Peranan Umat Islam di Indonesia
1. Masa Penjajahan
Perlawanan terhadap penjajah terjadi dalam 4 fase :
1.Fase persaingan dagang
2.Fase penetrasi dan agresi
3.Fase perluasan jajahan
4.Fase penindasan
2. Masa Perang Kemerdekaan
a. Peran Umat Islam
1.KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, HOS. Cokroaminoto di Jawa
2.Imam Bonjol di Sumatera Barat
3.Raden Intan di Palembang
4.Pangeran Antasari di Klaimantan
5.Sultan Hasanudin di Sulawesi
b. Peran Pondok Pesantren
Sebagai benteng pertahanan kaum Muslim selain sebagai sarana pendidikan Islam.
c. Peran Organisasi Islam
1)Sarikat Dagang – Syarikat Islam – Partai Syarikat Islam – Partai Syarikat Islam Indonesia
2)Muhammadiyah, bergerak di bidang sosial, ekonomi, dan budaya.
3)Sumatra Thawalib , Perhimpunan Ulama dan Pelajar di Sumatera Barat. Tahun 1928 menjadi Partai Parmusi
4)Nahdatul Ulama, bergerak di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya.
3. Masa Pembangunan
Perana umat Islam dilaksanakan oleh pemerintah, oraganisasi Islam, lembaga pendidikan Islam, dan umat Islam pada umumnya.
B.     Kerajaan- Kerajaan Islam di Indonesia
Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia ada banyak, antara lain:
1.      Kerajaan Islam di Peureulak
Menurut catatan sejarah bahwa pada tahun 173 Hijriyah (800 Masehi) telah berlabuh sebuah kapal milik para saudagar Islam yang dipimpin oleh nahkoda khalifah[1]  di kerajaan Peureulak. Para saudagar[2]  tersebut datang dari Teluk Kambey (Gujarat). Para saudagar tersebut datang ke Peureulak bukan hanya berniat untuk berdagang saja, akan tetapi juga untuk menyebarkan Islam di Indonesia.
Kerajaan Peureulak semula bukan kerajaan Islam, tetapi setelah Islam datang dan tersebar di Peureulak maka berdirilah kerajaan Islam di Peureulak. kerajaan Islam Peureulak berdiri pada hari selasa, satu Muharram 225 Hijriyah (840 Masehi). Sultan pertama kerajaan ini adalah Saiyid Maulana Abdul Aziz dengan gelar Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Ibukota kerajaan ini adalah Bandar Peurelak, akan tetapi kemudian diubah namanya menjadi Bandar Khalifah.

2.      Kerajaan Islam Samudra Pasai
Pada tahun 433 Hijriyah (1042 Masehi) datang seorang keluarga Sultan Mahmud Peureulak di Tanon Data. Beliau datang kesana dengan tujuan untuk menyebarakan Islam dan  membangun kerajaan Islam Samudra Pasai. Sultan pertama kerajaan tersebut adalah Mahmud Syah dengan gelar Maharaja Mahmud Syah, beliau juga sering disebut dengan Meurah Giri. Menurut catatan sejarah kerajaan Islam Samudra Pasai memiliki tamaddun dan kebudayaan yang tinggi, antara lain: Telah mempunyai pemerintahan dan lembaga- lembaga Negara yang teratur, perekonomian dan keuangan yang stabil, perdagangan yang maju, lembaga- lembaga ilmu pengetahuan yang berkembang, angkatan perang dan hubungan luar negri yang teratur, mata uang sendiri.
Ibnu Batutah sendiri telah menulis tentang kemajuan dan teraturnya kerajaan Samudra Pasai. Beliau menulis dalam bukunya bahwa kerajaan tersebut memiliki raja-raja yang alim, bijaksana, berani dan cinta kepad ulama, sedankan menteri-menterinya arif dan budiman, ulama-ulamanya shalih dan jujur.
3.      Kerajaan Darussalam
Di daerah Aceh besar terdapat kerajaan yang bernama Indra Purba. Kerajaan ini berdiri sekitar 2000 tahun sebelum nabi Isa, selama ribuan tahun kerajaan tersebut selalu mengalami pasang surut. Pada tahun sekitar 450 sampai dengan 460 Hijriyah (1059 sampai dengan 1069 Masehi), tentara cina menyerang kerajaan Indra Purba yang pada masa tersebut di perintah oleh Maharaja Indra Sakti. Pada waktu perang berlangsung tibalah di kerajaan Indra Purba dua pasukan yang dikirim oleh kerajaan Islam Peureulak. Dengan demikian, bertambah kuatlah kekuatan kerajaan Indra Purba sehingga kerajaan Indra Purba mengalami kemenangan. Untuk membalas jasa maka Maharaja Indra Sakti mengawinkan putrinya dengan Meurah Johan, salah seorang putra mahkota dari kerajaan Lingga.
Pada hari Jumat, Ramadlan 601 Hijriyah (1025 Masehi) diubahlah nama kerajaan Indra Purba dengan nama kerajaan Darussalam dengan ibukotanya Bandar Darussalam. Sultan Pertama di kerajaan ini adalah Meurah Johan dengan gelar Sultan Alaiddin Johan Syah. Setelah membuat ibukota baru yaitu Bandar Darussalam, beliau juga membuat kota peristirahatan yang nantinya di kota itulah beliau dimakamkan.
Selain kerajaan-kerajaan tersebut masih banyak kerajaan Islam lain yang lahir setelah kerajaan Hindu-Budha runtuh, diantaranya adalah kerajaan Demak di Jawa, kerajaan Lingga di Aceh Tengah, kerajaan Islam Jaya, dan lain-lain.

C.    Perkembangan Islam di Indonesia
Menurut Wahab (2004:6) mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan proses damai. Islam berkembang di Indonesia melalui beberapa jalan, diantaranya: Jalur perdagangan, lembaga pendidikan, dan pondok pesantren.
1.      Jalur Perdagangan
Suryanegara (1978:1, dalam Wahab, 2004:6) menjelaskan bahwa kedatangan Islam di Indonesia dikembangkan melalui jalur perdagangan dan daerah yang pertama di datangi oleh Islam adalah Sumatra dan Jawa. Hal ini didasarkan adanya perdagangan Arab dan dunia timur yang berlangsung sejak abad kedua sebelum Masehi. Selain itu, adanya berita dari Cina bahwa di Sumatra Barat terdapat seorang pembesar Arab yang menjadi kepala Arab Islam pada tahun 674 Masehi.
2.      Jalan Pendidikan
Wahab (2004:8) menyebutkan bahwa agama Islam selain dikembangkan melalui jalan perdagangan juga melalui jalan pendidikan. Ini dibuktikan dengan adanya lembaga pendidikan, lembaga tersebut sekarang masih ada, seperti: pondok pesantren, masjid, surau, dan sebagainya. Adanya pondok pesantren membuat agama Islam melakukan pembaharuan dalam masyarakat, budaya, dan kehidupan beragama.
Menurut Anshari (1976:176, dalam Wahab, 2004:7), “Kedatangan Islam ke Indonesia ini membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia”.
3.      Pondok Pesantren
Menurut Wahab (2004:9), kehidupan pondok pesantren zaman sekarang dengan pondok pesantren zaman dahulu telah mengalami perubahan dalam sistem pendidikannya atau keadaan lainnya. Dalam pendidikan zaman dahulu para santri diwajibkan tinggal di asrama pondok[3] , hal inilah yang menyebabkan adanya jalinan kasih sayang yang kuat diantara para murid dan pendidik.
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Islam dibawa dan disebarkan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan perdamaian dan hal itu pulalah yang membawa Islam mudah diterima oleh rakyat Indonesia.
Menurut para pakar sejarah (Wahab, 2004:10), hal-hal yang terkait dengan perkembangan masuknya Islam di Indonesia adalah permulaan abad pertama Masehi yang para pedagang asing seperti Tiongkok, India, dan Arab mulai berlayar melalui pelayaran Indonesia. Kemudian setelah Islam lahir dan berkembang di Arab, akhirnya masuk juga di negara Indonesia pada abad ketujuh Masehi. Islam masuk ke Indonesia pertama di daerah Sumatra dibawa oleh pedagang Persi, India, dan juga utusan dari bangsa Arab.
Para ahli yang mengatakan Islam masuk di Sumatra pada abad ketujuh Masehi antara lain: Sayid Alwi bin Tahir Alhaddad Mufsi, H. M. Zaenudin (beliau mengatakan bahwa pada abad ketujuh saat Rasulullah masih hidup dan singgah pertama di Sumatra Utara yaitu Kampung Lamuri), dan H. Zaenal Arifin Abbas, (beliau menerangkan bahwa pada tahun 684 Masehi ada seorang pemimpin Arab Islam yang berangkat ke Tiongkok dan beliau sudah punya pengikut di Sumatra Utara).
Menurut para ahli masuknya Islam di Sumatra adalah pada abad ketujuhMasehi. Hal ini dapat dibuktikan melalui peninggalan-peninggalan yang ditemukan, seperti di daerah Minangkabau Timur yang terdapat beberapa batu nisan yang diperkirakan dibuat pada abad ketujuh Masehi. Selain itu, di daerah Barus dan Riau terdapat kuburan besar dari ulama penyiar Islam yang mempunyai tanda batu-batu besar yang bergambar bulan bintang. Di daerah Riau juga ada  nama-nama daerah yang bersifat ke Arab-araban, seperti: kota Kutib, Iskandariyah, Kuffah, dan sebagainya. Sedangkan, di daerah Barus Tapanuli ditemukan batu yang bertuliskan huruf Arab, yang isinya adalah pencarian empat murid terhadap gurunya yang mengajar Islam di Barus. Batu itu diperkirakan dibuat pada abad ketujuh Masehi.
Islam tidak hanya berkembang di Sumatra, akan tetapi juga di Jawa. Perkembangan Islam di Jawa disebarkan oleh para wali Sembilan (wali songo[4] ) yang hidup pada masa kesultanan Demak yang terjadi antara tahun 1500 sampai dengan 1550. Para wali tersebut dalam pemerintahan bertugas sebagai penasihat raja. Wali-wali tersebut antara lain: Wali yang mengembangkan Islam di Jawa Timur adalah Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat (Sunan Ampel), Sunan Giri (Maulan Ainul Yakin). Selanjutnya, Wali yang mengembangkan Islam di Jawa Tengah adalah Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Muria, Syaikh Siti Jenar. Selain itu, Wali yang mengembangkan Islam di Jawa Barat adalah Sunan Gunung Jati (Fatahillah).

sumber:
http://prasetyoirfan11.wordpress.com/2013/12/22/337/

-http://babysii.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment